Firefly Pointer -->

Assalamualaikum Wr.Wb




BAGAIMANA CARA MEMBUKA HATI SESEORANG AGAR MASUK ISLAM?

Berdasarkan pengalaman hidup saya, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang non-muslim. Awalnya saya hanya ingin jalan saja, akan tetapi belakangan ini dia mulai membicarakan hal yang serius.
Bagaimanakah cara saya agar saya bisa membimbing dia bisa masuk Islam?
Apa saja yang harus saya lakukan?
Mohon bantuannya! Atas Bantuannya, saya ucapkan terima kasih.
Wassalam,
Roselind

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Sdri Roselind yang insya Allah dirahmati-Nya, terima kasih Anda berkenan mengajukan pertanyaan guna mengatasi persoalan yang sedang Anda hadapi sekarang. Yakni, terkait dengan keseriusan Anda, dan seseorang yang Anda duga kuat ingin menjalin ikatan berumah tangga, dengan Anda.
Allah SWT dan Rasul-Nya mencintai hamba dan umatnya yang senantiasa mencari jalan kehidupan melalui jalan Islam yang penuh kebaikan dan kesempurnaannya itu. Termasuk, ajaran untuk menikah jika waktunya telah tiba.
Proses menikah, dalam Islam, tetap harus senantiasa berlandaskan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Di antaranya, pertama, niat menikah yang harus secara lurus dan tulus ikhlas hanya diniatkan untuk memperoleh keridhoan Allah SWT. Sebab, Allah-lah yang Maha Mengetahui segala rahasia hidup dan kehidupan setiap insan.
Pembentukan rumah tangga yang didahului dengan pernikahan, dalam perjalanan mengarungi biduk kehidupan, akan menemui berbagai macam onak dan duri, selain kenikmatan-kenikmatan. Jika dari proses awal pernikahan, seorang hamba Allah SWT sudah berupaya dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti semua hal yang diperintahkan Allah SWT dan menjahui larangan-larangan-Nya, maka insya Allah akibat atau perjalanan selanjutnya semua dalam kebaikan dan keridhoan-Nya.
Kedua, Islam sangat menghargai harkat dan martabat setiap manusia. Seseorang yang sudah menginjak usia baligh (mampu membedakan benar dan salah, pahala dan dosa, dalam kacamata Islam) sudah bertanggung jawab penuh atas segala perbuatan yang dilakukannya.
Salah satu ciri seseorang sudah baligh adalah adanya rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Rasa itu memang fitrah dan sunnah-Nya (hukum alam, jika merujuk pada sebagian ilmuwan Barat). Nah, pada saat muncul hasrat tertarik dengan lawan jenis itu, ajaran Islam begitu tinggi untuk memelihara harkat dan martabat manusia itu.
Dalam Islam, dua insan yang sedang jatuh cinta, tidak diperkenankan berdua-duaan dan berlama-lama, di suatu tempat dimanapun. Sebab, pihak ketiga, yakni setan, akan memasang perangkap untuk menjebak keduanya masuk dalam perangkap zina, baik yang ringan hingga yang berat. Zina ringan pun dalam Islam sudah dikategorikan dosa besar yang sulit diampuni oleh Allah SWT, kecuali dengan taubatan nasuha (tak diulangi lagi).
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya berhati-hati mengenai zina, dari yang terkecil sekalipun. “Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)
Lalu, sabda Nabi SAW yang lain, “Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)
Membukakan Pintu Hidayah
Orang yang beriman lebih dulu dan menunjukkan jalan Islam atau membukakan pintu hidayah Allah SWT, maka balasannya lebih baik dari dunia dan isinya, yang diistilahkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai “unta merah” sebagaimana sabdanya: ““Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi)
Jika Sdri Roselind membukakan pintu bagi calon suaminya, maka itu akan menjadi amal kebajikan yang tak terhingga nilainya, yang kelak akan diberikan balasan kebaikan oleh Allah SWT. Balasan kebaikan berupa surga adalah jika Anda sendiri tetap menjaga keimanan Anda hingga akhir hayat, juga konsistensi calon suami Anda yang dibawa sampai tutup usia.
Memang, niat calon suami Anda untuk masuk Islam harus dicermati dengan baik. Jangan sampai niat masuk Islam itu didasarkan pada nafsu belaka, tanpa ada kemauan yang sungguh-sungguh untuk hidup bersama Islam sampai hayat di kandung badan.
Peringatan Allah SWT tentang larangan pernikahan antara perempuan beriman (Muslimah) dengan non-Muslim juga perlu direnungkan. Sebab, posisi perempuan itu secara naluriah dan lahiriah lebih lemah dibandingkan kedudukan laki-laki dalam ikatan pernikahan.
Larangan ini juga berlaku bagi laki-laki Muslim dengan non-Muslim. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surgadan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah : 221)
Demikian juga Firman Allah SWT: “Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pernikahan yang demikian (Muslim dan non-Muslim) akan merusak aqidah (keyakinan iman) dan agama perempuan Muslimah.
Untuk memudahkan urusan Anda dalam menghadapi kasus ini, saran kami, pertama, pastikan (teliti) bahwa calon suami Anda itu mau masuk Islam bukan sekedar karena ingin menikahi Anda, akan tetapi karena memang ingin hidup dalam aturan Islam. Caranya, tentu Anda mungkin lebih tahu. Tetapi, paling tidak Anda bisa mengamati, mencermati, dan menginvestigasi tentang maksud dia melalui orang-orang atau pihak yang berinteraksi dengan dia dan mengetahui track record hidupnya.
Kedua, Anda bisa menganjurkan dia agar mulai serius mempelajari Islam dari berbagai media, seperti buku-buku, audio visual, dan juga dari dunia maya (internet). Buku-buku dan sumber informasi lainnya hendaknya yang mendasar, seperti yang membahas tentang Allah SWT, kisah Nabi Muhammad SAW, dan prinsip-prinsip Islam lainnya (yang membedakan antara Islam dan agama lain).
Ketiga, cobalah calon suami Anda itu menghubungi masjid-masjid jami’ (besar) seperti Masjid Agung Al-Azar (Kebayoran Baru), Masjid Sunda Kelapa (Menteng), Masjid Cut Meutia (Gondangdia), Masjid Raya Pondok Indah, yang melayani konsultasi tentang bagaimana seorang non-Muslim yang berkemauan keras untuk masuk Islam (muallaf).
Memang semua ini butuh waktu sampai dia masuk Islam dan mempraktikkan atau mengamalkan nilai-nilai dan ajaran Islam. Kesiapan menerima Islam secara kaffah (menyeluruh) dan lahir-batin bisa dibuktikan dengan konsistensi/istiqamah yang terukur.
Demikian jawaban singkat yang dapat kami berikan. Moga bermanfaat dan bisa membantu Anda dalam menyelesaikan satu persoalan. Dan, semoga Allah SWT senantiasa membimbing Anda menuju jalan yang lurus dan konsisten di jalan Islam. Amin!

Metode Berdakwah Untuk Mengajak Non-Muslim Masuk Islam


Dakwah, menyampaikan pesan Islam kepada non-Muslim, adalah kewajiban umat Islam. Allah SWT memerintahkan dan menuntun kita dalam Al Qur'an untuk melakukan dakwah (dengan aturan-aturan tertentu):

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. 16:125)

Empat kata kunci yang harus digarisbawahi dalam ayat ini adalah "serulah", "manusia", "pelajaran yang baik", dan "cara yang baik". Banyak pendakwah dan organisasi Islam di seluruh dunia menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah mereka berdasarkan ayat ini.

Bagi mereka, mengundang seseorang untuk masuk Islam berarti dengan lembut mengajak, peduli, santun, dan sebagainya. Sebagai contoh, kita tidak bisa “mengundang” seorang non-Muslim untuk memahami tentang Islam, atau belajar Islam, atau membuat dia tertarik kepada Islam, dengan memanggilnya kafir, manusia najis, atau nama-nama buruk lainnya. Rasulullah s.a.w bahkan tidak membolehkan para penyembah berhala (yang bukan saja menentang ajaran Rasulullah, tapi juga melemparinya dengan kotoran unta, mengasingkan umat Muslim selama tiga tahun dan membunuh sahabat-sahabat terdekatnya, dan sebagainya) dicela dalam sebuah puisi bernada sarkasme oleh Hassan bin Tsabit yang mengatakan “Bagaimana kalau sebenarnya aku bersaudara dengan mereka?” (H.R. Bukhari, dari Aisyah)

Kita harus mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w dengan tidak menghina orang lain. Dengan begitu, kita harus memiliki akhlaq yang baik, seperti yang diajarkan oleh Islam, dan dengan demikian menjadi penyeru-penyeru Islam yang terbaik, dan begitulah seharusnya sifat para da’i sejati. Seorang Muslim yang membuat nama Islam menjadi buruk dengan berperilaku ekstrim, keras, emosinya tinggi, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berpikiran sempit, dogmatis, dan hal-hal lain yang tidak diajarkan dalam Islam, hanya akan membuat pekerjaan para da’i menjadi lebih sulit. Orang-orang seperti itu hanya membuat nama Islam semakin buruk di zaman sekarang, dimana banyak orang yang berpandangan negatif terhadap Islam.

Kita juga harus mengingat perintah dari Allah kepada Nabi Musa a.s dan Harun a.s:

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Qur'an 20:43 -44)

Bahkan kepada Fir’aun, yang telah membunuh banyak orang tak bersalah dengan merebusnya dalam ketel minyak yang mendidih, yang telah mengaku dirinya sebagai tuhan, kita harus berbicara dengan lemah-lembut, apalagi kepada orang-orang yang lebih baik daripadanya.

Kata penting berikutnya adalah “manusia.” Ini berarti SEMUA MANUSIA, tanpa terkecuali. Setiap non-Muslim adalah calon muallaf yang bisa mendapatkan hidayah meskipun mereka sangat anti-Islam atau berperangai buruk. Ingatlah bahwa Umar bin Khattab r.a dan Khalid bin Walid r.a, sebelum mereka berdua masuk Islam adalah orang yang sangat anti-Islam. Seorang Muslim tidak boleh terlalu memilih-milih kepada siapa dia berinteraksi. Setidaknya ada tiga alasan untuk hal ini: 


1. Lebih baik bagi kita untuk menjelaskan Islam kepada siapapun, meskipun sikap mereka memusuhi, sinis, dan kritis, daripada membiarkan mereka belajar sendiri dan ternyata belajar dari sumber yang salah, atau lebih buruk lagi, belajar dari website-website anti-Islam, dsb. Dengan berdakwah, setidaknya kita bisa mengenalkan ajaran Islam yang sebenarnya kepada mereka. ‘Menurut anda ini hanya buang-buang waktu? Bacalah alasan nomor 2.

2. Tujuan berdakwah bukanlah untuk menjadikan non-Muslim masuk Islam, melainkan untuk menyampaikan pesan Islam kepada mereka dengan cara terbaik yang kita bisa, dan hal itu berarti “dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” Penerimaan atau penolakan mereka terhadap Islam terserah kepada mereka. Kesuksesan dari dakwah tidak berada di tangan kita. Hanya Allah yang punya kekuatan memberikan hidayah (petunjuk) kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, bahkan Nabi Muhammad s.a.w pun tidak punya kekuatan untuk hal itu. Ingatlah bahkan Nabi Muhammad s.a.w  tidak bisa mengislamkan Abu Thalib, pamannya sendiri,.

3. Seorang Muslim yang pernah mencoba untuk mendapatkan perhatian dari non-Muslim tentu pernah mengalami kesulitan dalam berdakwah. Tentu saja berdakwah kepada non-Muslim tidak semudah berdakwah kepada Muslim yang taat, misalnya mereka yang sering pergi ke masjid, menghadiri ceramah Islam, seminar, program dakwah, dsb, dan mereka yang sudah tertarik kepada Islam.

Kata kunci berikutnya pada ayat 16:125 adalah “hikmah” dan “pelajaran yang baik.” Mari kita bahas keduanya, secara singkat. Kita harus menyiapkan strategi yang efektif agar dakwah kita kepada non-Muslim berhasil. Salah satu strategi yang cukup sukses akan dijabarkan sebagai berikut:

PANDUAN UNTUK BERBICARA KEPADA NON-MUSLIM TENTANG ISLAM

TUJUAN: Untuk menyampaikan pesan Islam, dan berbagi keindahan Islam.

Tujuan kita BUKANLAH untuk mengislamkan non-Muslim, karena non-Muslim tersebut haruslah membuat keputusan untuk masuk Islam dengan hatinya, tidak boleh karena terpaksa. Tentu saja, jika dia memilih untuk masuk Islam, Alhamdulillah; dan kita akan memberikan semua bantuan yang dia butuhkan pada saat dan setelah dia masuk Islam. Peran kita adalah menolong orang itu untuk menemukan jati dirinya, dan untuk menemukan arah dan tujuan yang benar dalam hidupnya. Mendalami ajaran Islam adalah sebuah perjalanan ruhani baginya, dan dia akan menerima pertolongan dan petunjuk dari Allah; peran kita hanyalah untuk membantunya sebaik mungkin dalam perjalanannya.

PRINSIP-PRINSIP

A. PENDEKATAN

1.  Metode untuk mendekati seorang non-Muslim tergantung pada kita. Salah satunya adalah dengan berdiskusi secara pribadi, sehingga non-Muslim itu merasa lebih dekat dengan Islam. Sebelum membicarakan tentang Islam, kita harus mengenal dirinya lebih dahulu – tanyakan tentangnya, keluarganya, pekerjaannya, dsb (tapi hanya jika dia mau menceritakannya). Jadilah seorang teman yang tulus baginya. Pedulilah pada dirinya. Ini adalah bagian dari dakwah Islam. Menjadi seorang Muslim yang baik adalah metode dakwah yang terbaik. Dengan mengetahui lebih banyak tentangnya, anda juga bisa merencanakan pendekatan dan strategi paling efektif untuk mengajarkan Islam kepadanya. Setiap orang itu berbeda, dan butuh pendekatan yang berbeda-beda. Cobalah juga untuk mengetahui seberapa banyak yang dia tahu tentang Islam, dan tentang kesalahpahaman, masalah, atau keraguan yang dia miliki berkenaan dengan Islam. Berkenaan dengan bagaimana caranya memulai pembicaraan, seorang da’i yang berpengalaman biasanya memulai pembicaraan tentang Islam dengan suatu topik. Sebuah pertanyaan pembuka yang bisa dicoba misalnya: “Bagaimana anda tahu tentang Islam pertama kalinya?” Atau “Apakah anda tahu ada buku tentang Islam yang bagus?” Atau tanyakan padanya tentang berita di media-media yang menyorot tentang Muslim, dan setelahnya tanyakan padanya apakah dia tahu tentang Islam dan Muslim. Lakukan ini dengan lemah-lembut, dan ramah – jangan membuat diskusi ini terlihat seperti wawancara atau bahkan yang lebih parah lagi, seperti interogasi. Tariklah dirinya, biarkan dia yang lebih banyak bicara, dan bantulah dia untuk merasa senyaman mungkin. Tergantung pada situasinya, lanjutkan diskusinya atau bawakan beberapa buku Islam padanya.

2. Jangan habiskan terlalu banyak waktu membicarakan Islam dengan orang-orang yang biasa anda temui. Berikan pengetahuan tentang Islam kepadanya sedikit demi sedikit, agar dia lebih mudah memahaminya. Jangan pernah langsung memberikan buku atau Quran begitu saja. Selalu mulai dengan sebuah brosur kecil, dan dilanjutkan dengan artikel. Sedangkan Al-Qur’an atau buku-buku mengenai Islam lebih baik diberikan setelah dia berulang kali memintanya. Jangan pernah memberikan lebih dari satu buku pada jangka waktu yang dekat, dan ikuti perkembangannya apakah dia telah membaca bukunya atau belum, dan tanyakan padanya beberapa pertanyaan.

3. Cobalah untuk mengetahui latar belakang dari non-Muslim tersebut. Ini akan membantu kita untuk merencanakan pendekatan yang paling sesuai dalam berdakwah. Non-Muslim tidak sama. Setiap dari mereka saling berbeda, masing-masing punya tantangan tersendiri, dan masing-masing mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda. Sebagai contoh, ada orang yang cenderung mempertanyakan segalanya dan seringkali cukup skeptis – seorang pendakwah harus menjelaskan segala sesuatunya dengan mendetil, memberikan penjelasan yang masuk akal untuk meyakinkan mereka. Sebagian lagi cendrung menghadapi masalah dengan keluarga mereka jika mereka masuk Islam.
.
4. Jadilah rasional (jangan emosional), dan lembutlah dalam pendekatan anda, meskipun jika dia agresif atau marah, atau bahkan menghina anda. Tetaplah menghargainya. Allah telah memberikan akal kepada setiap orang untuk berpikir dan hati untuk merasakan, dan dia terikat dengan pendapat dan perasaannya sendiri. Hindari konfrontasi, dan jangan merasa bahwa ada “peperangan” atau perdebatan yang harus anda “menangkan.”

5. Jangan terlalu bersemangat atau melebih-lebihkan dakwah anda. Ketika anda melihat bahasa tubuh atau raut wajahnya terlihat seperti kehilangan ketertarikan, hentikanlah diskusinya. Anda harus meredakan tensinya, misalnya dengan menawarkan minuman, atau memperkenalkannya dengan teman-teman dakwah anda yang lain. Ingatlah bahwa dakwah adalah proses yang panjang, dan tidak bisa dilakukan hanya dalam satu pertemuan, atau dalam beberapa pertemuan – dakwah memerlukan usaha yang konsisten dan kesabaran.

6. Biarkan dia yang menentukan ritmenya. Untuk setiap orang, belajar Islam adalah pengalaman yang sangat pribadi, dan penting bahwa dia punya waktu untuk mencernanya sendiri. Jangan tentukan batasan waktu apapun, melainkan dengan lembut tuntunlah dia setahap demi setahap sampai dia siap. Sangat penting agar dia tidak merasakan tekanan apapun, karena hal ini akan membuat kerangka berpikirnya salah dan tidak mengetahui kebahagiaan dan ketenangan dari ajaran Islam.

7. Dakwah adalah pertukaran pikiran dan pandangan. Buatlah perbincangannya menjadi dua arah, bukan hanya satu arah yang dikemukakan oleh sang da’i saja. Banyak non-Muslim yang meskipun memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang ajaran Islam, namun memiliki gagasan dan kepercayaan yang mirip dengan Islam. Mereka juga seringkali mengemukakan komentar-komentar dan sudut pandang yang baik dan bijaksana, yang benar-benar berguna bagi sang da’i.

8. Jika target kita berjumlah lebih dari lima orang, diskusinya dapat diubah menjadi seperti memberikan ceramah kepada suatu kumpulan orang. Dalam kasus seperti ini, lakukan sesi tanya-jawab setelah ceramah dan bagikanlah brosur setelah ceramah. Atau bisa juga dibentuk kelompok diskusi. Kelompok diskusilah yang terbaik dimana sang pendakwah lebih punya banyak kesempatan untuk mendekatkan diri dengan orang-orang baru.

9. Debat terasa tidak cocok dengan metode berdakwah. Debat pada prinsipnya adalah kita berusaha menjatuhkan lawan dengan mengekspos dan menyerang kelemahan lawan yang kita ketahui. Debat dapat menjadi hiburan bagi Muslim, tapi merupakan sebuah siksaan bagi grup lawan; dan hal ini tidak akan bisa menarik simpati mereka. Seringkali, seorang pendakwah memenangkan debat tapi tidak dapat menarik simpati orang yang didebat, sehingga membuat segala usahanya sia-sia.

10. Penyebaran brosur dan dakwah dari satu rumah ke rumah lainnya adalah metode yang juga dapat dicoba dalam berdakwah. Penyebaran brosur bagaikan menebar benih dari sebuah pesawat terbang, sebagian akan jatuh di atas bebatuan, sebagian lainnya di sungai, di gurun, dan sebagian di tanah yang subur sehingga tumbuhlah benih itu. Ketika menggunakan pendekatan ini, buatlah brosurnya simpel dan bisa dibaca dalam waktu tiga sampai lima menit. Brosur ini harus memuat alamat dan nomor telepon dari organisasi dakwah anda. Sebuah organisasi misionaris Kristen telah berhasil melakukan penyebaran agama dengan sistem ‘ketuk pintu.’ Dalam kasus ini, kita harus sopan dengan meminta izin untuk memasuki rumah non-Muslim tersebut. Pertemuannya harus disudahi ketika anda melihat wajah atau bahasa tubuh sang tuan rumah sudah tidak nyaman. Kunjungan berikutnya harus didasarkan pada kesediaan tuan rumah dan kenyamanannya.

B. ISI

1. Kenalkan keindahan Islam seperti misalnya ketauhidan dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Mulailah dari aspek yang positif.

2. Sebisa mungkin, tetaplah membahas prinsip-prinsip yang utama dan penting dalam Islam. Cobalah menghindari masalah-masalah (ikhtilaf) yang kurang penting, misalnya permasalahan Sunni-Syi’ah. Jika lawan bicara membahas hal-hal semacam itu, berikan jawaban singkat, dan kemudian cobalah mengarahkan dia kembali kepada prinsip-prinsip dasar, sehingga dia tidak melihat Islam dalam sudut pandang yang salah. Pada waktu bersamaan, jika ada aspek tertentu dalam Islam – atau kesalahpahaman – yang mengusiknya, diskusikanlah dan cobalah membantu menjelaskan keraguannya.

3. Tekankan universalisme Islam (misalnya, Allah sebagai Tuhan seluruh makhluk, satu-satunya yang patut disembah) – fakta bahwa Islam adalah jalan hidup yang menyempurnakan seluruh wahyu Tuhan sejak zaman Nabi Adam; dengan demikian Islam mengajarkan banyak nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sama yang juga ada di agama-agama besar lainnya. Dengan demikian, Islam bukanlah agama yang berbeda dan terpisah tanpa hubungan dengan agama-agama lainnya. Jangan mengkritik atau mencela agama lain. Sebisa mungkin, hindari membandingkan Islam dengan agama lainnya, cukup beritahukan ajaran-ajaran dari Islam sendiri.

4. Seringkali lebih tepat mengenalkan Islam sebagai jalan untuk mencari jawaban terhadap masalah-masalah sosial di zaman sekarang, yang seringkali membuat banyak orang kecewa. Jelaskan bahwa Islam membahas semua aspek kehidupan, baik dalam kehidupan sosial begitu juga dalam permasalahan pribadi, dalam permasalahan duniawi dan ruhani; prinsip-prinsip Islam itu luas, menjadikan penerapannya fleksibel dan dinamis, dan dengan demikian cocok untuk setiap waktu dan kondisi.

5. Selalu katakan yang benar. Persiapkan diri anda sebaik mungkin dengan ilmu Islam. Jangan pernah menerka-nerka; jika anda tidak tahu suatu permasalahan, atau tidak yakin, katakan saja terus terang, atau arahkan non-Muslim tersebut kepada seseorang yang lebih tahu, atau beritahu padanya bahwa anda akan mencarikan jawaban untuknya (dan bersungguh-sungguhlah dalam mencarikan jawaban untuknya!) dari sumber yang terpercaya. Selalu arahkan kepada orang-orang yang lebih berpengetahuan tentang Islam (misalnya ulama, da’i, guru agama, dsb) ketika pertanyaan yang sulit muncul. Jangan pernah memberikan video, atau debat agama, atau video yang tampak bisa menyinggung perasaannya, karena materi-materi seperti itu tidak membuka hati dan pikirannya melainkan non-Muslim tersebut malah akan bersikap defensif dan membuat hatinya semakin tertutup.

6. Jangan merasa malu akan ajaran Islam – Islam dengan segala aspek, prinsip, dan ibadahnya, adalah sebuah agama yang sempurna, yang diberikan kepada umat manusia oleh Allah s.w.t – Dengan begitu tidak ada yang perlu disembunyikan, atau merasa malu pada salah satu ajaran Islam. Jangan merasa tersinggung jika seseorang mengkritisi atau menolak suatu aspek dari Islam. Tugas kita adalah untuk menjelaskan tentang Islam sebaik mungkin – entah apakah dia menerimanya atau tidak, itu bukan kewajiban kita, melainkan hal itu berada di tangan Allah s.w.t.

7. Jangan takut menerima kritikan – Seringkali orang-orang menilai Islam dengan melihat pada umat Muslim, dan tentu ada sebagian Muslim yang tidak mengikuti ajaran Islam. Kita harus mengakui kesalahan seperti itu, dan tunjukkan bahwa “kesalahan” itu berasal dari orang itu sendiri, sedangkan Islam sendiri adalah sebuah jalan hidup yang sempurna untuk manusia dan memberikan ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian yang penuh jika diikuti dengan bersungguh-sungguh. Jangan mencela ajaran agama lain. Hal ini tidak ada gunanya, dan hanya akan membuat si pendengar membalasnya dengan menyerang ajaran Islam. Untuk non-Muslim tersebut, kita pertama-tama harus membangun aqidah orang itu, dan membangun kecintaannya akan Islam. Mengajarkan praktek-praktek ibadah dalam Islam baru dilakukan setelah dia mencintai Islam.

Kita harus membuat non-Muslim itu merasa nyaman dengan kita, sehingga dia bisa mengeluarkan keluhannya, dan merasa nyaman ditemani oleh Muslim yang tulus, untuk belajar tentang Islam. Jangan sampai dia merasa tidak nyaman.

Setiap Muslim dengan ilmu yang memadai tentang Islam dapat menjadi da’i dan berdakwah tapi keefektifan dakwahnya bergantung pada kedewasaannya ketika berbicara pada orang lain. Kita harus selalu menghormati dan santun kepada non-Muslim, tidak peduli seberapa tersesatnya mereka dalam pandangan kita. Kita harus sering-sering mengingatkan diri sendiri bahwa setiap manusia telah diciptakan oleh Allah dengan potensi yang sama untuk mencapai derajat yang tertinggi di sisi-Nya. Dengan demikian, mungkin saja pada suatu hari nanti mereka malah bisa menjadi Muslim yang lebih baik daripada kita sendiri.

Yang terakhir, ingatlah bahwa dakwah adalah kewajiban yang harus kita laksanakan sesuai dengan kemampuan terbaik kita untuk mencari ridha Allah. Jangan takut! Meskipun dakwah adalah tanggung jawab yang cukup besar, kita harus ingat bahwa kita tidak melakukannya seorang diri. Allah selalu bersama kita. Dia akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang tulus dan rendah hati dalam mencari ridha-Nya.